Tahukah kamu, minyak kelapa sangat menakjubkan, dan berita terbarunya minyak kelapa ini bahkan bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar pesawat.
Indonesia, sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di
dunia, memiliki potensi besar dalam memanfaatkan sumber daya alamnya untuk
berbagai keperluan. Salah satu inovasi yang mencolok adalah upaya BRIN
(Badan Riset dan Inovasi Nasional) dalam mengembangkan teknologi untuk
mengkonversi minyak kelapa menjadi bio-jet fuel. Penelitian ini dipimpin
oleh Deliana Dahnum dari Pusat Riset Kimia BRIN.
Selain dari transportasi darat, emisi juga dihasilkan sektor penerbangan yang berasal dari pembakaran bahan bakar avtur. Gas buang yang dihasilkan, misalnya, adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida, karbon monoksida (CO), dan debu.
Sektor penerbangan menjadi penyumbang signifikan emisi karbon dioksida yang
berkontribusi pada perubahan iklim, sehingga perlu solusi alternatif yang lebih
ramah lingkungan. Bio-jet fuel dari minyak kelapa merupakan salah satu
solusi yang diusulkan. Proses konversi ini menggunakan katalis berbasis
Metal-Organic Frameworks (MOFs), material inovatif yang dapat meningkatkan
efisiensi konversi minyak kelapa menjadi bio-jet fuel.
Katalis MOFs menawarkan berbagai keunggulan, seperti luas permukaan yang besar,
sifat yang dapat disesuaikan, kestabilan termal dan kimia yang tinggi,
kemampuan adsorpsi yang baik, serta desain struktural yang beragam. Semua
ini memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi proses katalisis dalam pembuatan
bio-jet fuel.
Proses awal pengolahan melibatkan hidroproses, di mana minyak kelapa diproses
menggunakan katalis MOFs. Uji coba laboratorium telah menunjukkan hasil
yang positif, dan tim Deliana terus melakukan pengujian untuk memastikan
efisiensi konversi yang tinggi.
Penggunaan bio-jet fuel dari minyak kelapa menawarkan sejumlah
manfaat. Pertama, dapat mengurangi emisi karbon hingga 80% dibandingkan
bahan bakar fosil. Kedua, inovasi ini memanfaatkan sumber daya lokal,
seperti kelapa yang tidak layak konsumsi, yang biasanya terbuang. Dengan
demikian, limbah kelapa dapat dimanfaatkan lebih optimal.
Pengembangan bio-jet fuel ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada
bahan bakar fosil, sejalan dengan upaya global untuk beralih ke energi
terbarukan. Selain itu, Indonesia berpotensi menjadi pionir dalam
pengembangan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
Meskipun masih ada tantangan yang harus diatasi, penelitian
ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan
bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
AS
Ref: Dari berbagai sumber